Sun, 21 Dec 2014
Home » News » 2012-12-28 04:55

BISNIS ROTAN: Pasokan minim, industri terancam gulung tikar

JAKARTA--Industri hulu dan hilir rotan dalam negeri terancam gulung tikar akibat minimnya pasokan bahan baku.
 
Sekertaris Jenderal Asosiasi Pengusaha Rotan Indonesia Lisman Sumardjani mengatakan banyak petani rotan yang memilih banting setir akibat ditutupnya pasar ekspor oleh pemerintah.
 
"Permendag No.35 membuat banyak petani rotan yang melakukan alih guna lahan. Ditutupnya pasar ekspor membuat rotan tidak menarik lagi untuk ditanam," jelasnya saat dihubungi Bisnis, Kamis (27/12).
 
Permendag No.35/2011 tentang Larangan Ekspor Rotan mulai diberlakukan sejak November 2011. Dalam pasal 2 peraturan tersebut rotan mentah, rotan asalan, rotan setengah jadi, dan rotan W/S dilarang untuk diekspor.
 
Lisman menambahkan alih guna banyak terjadi di Kalimantan. Hutan tanaman penghasil rotan di daerah tersebut banyak dialihgunakan untuk perkebunan sawit.
 
"Kalau hutan tanaman penghasil rotan yang terletak di hulu sungai banyak digunakan untuk pertambangan emas," imbuhnya.
 
Larangan ekspor, lanjutnya, berbanding terbalik dengan potensi Indonesia yang merupakan negara penghasil rotan terbesar di dunia. Menurutnya, komoditi rotan akan segera kehilangan nilai ekonomisnya dan tergantikan oleh rotan sintetis.
 
Punahnya industri rotan, lanjutnya, mulai tampak di beberapa daerah. Di Sumatera misalnya, hanya dua perusahaan yang beroperasi dari 20 perusahaan yang ada.
 
Sementara itu, di Pulau Sulawesi dari 60 industri rotan setengah jadi, hanya 15 diantaranya yang masih beroperasi. Utilisasi perusahaan-perusahaan tersebut berkisar 50 persen--60 persen.
 
Hal serupa terjadi di Pulau Kalimantan yang hanya menyisakan 1 industri rotan setengah jadi, itupun hampir gulung tikar. Bahkan, di Nusa Tenggara Barat, seluruh industri rotan telah menghentikan aktifitasnya.
 
Lisman menagih janji penghiliran yang pernah diberikan pemerintah saat pemberlakuan larangan ekspor. Meski sudah setahun diterapkan, lanjutnya, larangan ekspor belum disertai dengan penghiliran rotan.
 
"Dulu zaman Menteri Perdagangannya Marie Elka Pangestu kami masih didengar. Sekarang, ketemu saja tidak mau, bagaimana mau didengar," ungkapnya. (Bsi)




HARGA TERTINGGI
  • Kota Surakarta - Gula Pasir Kristal Putih (kw medium) - 9800
  • Kab. Purbalingga - Gula Pasir Kristal Putih (kw medium) - 9540
  • Kab. Banjarnegara - Gula Pasir Kristal Putih (kw medium) - 9530
  • Kab. Banyumas - Gula Pasir Kristal Putih (kw medium) - 9520
  • Kab. Kebumen - Gula Pasir Kristal Putih (kw medium) - 9510
  • Kab. Purworejo - Gula Pasir Kristal Putih (kw medium) - 9500
  • Kab. Wonosobo - Gula Pasir Kristal Putih (kw medium) - 9500
  • Kab. Cilacap - Gula Pasir Kristal Putih (kw medium) - 9500
  • Kota Semarang - Gula Pasir Kristal Putih (kw medium) - 9500
  • Kab. Purbalingga - Minyak Goreng Bimoli Botol 620cc/bt - 9480
HARGA TERENDAH
  • Kota Surakarta - Kacang Hijau - 10000
  • Kota Surakarta - Cabe Besar Keriting - 10000
  • Kota Semarang - Minyak Goreng Curah (Tanpa Merk) - 10500
  • Kota Surakarta - Minyak Goreng Bimoli Botol 1 liter - 10500
  • Kab. Purworejo - Minyak Goreng Curah (Tanpa Merk) - 10500
  • Kab. Wonosobo - Minyak Goreng Curah (Tanpa Merk) - 10500
  • Kab. Banjarnegara - Minyak Goreng Curah (Tanpa Merk) - 10500
  • Kab. Cilacap - Minyak Goreng Curah (Tanpa Merk) - 10500
  • Kab. Kebumen - Minyak Goreng Curah (Tanpa Merk) - 10510
  • Kab. Banyumas - Minyak Goreng Curah (Tanpa Merk) - 10510

Sekretariat TPPH Jateng Jl. Imam Bardjo no.4 - Semarang
Telp/Fax: (024) 8310246 email: info@tpph-jateng.go.id
develop by GIT SOLUTION